HUTAN DI KOTA BESAR

HUTAN DI KOTA BESAR
HUTAN DI KOTA BESAR

 

Kalau sempat ke Hongkong SAR

Datanglah ke kawasan-kawasan bisnisnya yang memesona. Di distrik Central, terdapat Des Voeux Road dan Chater Road yang sarat hutan beton. Di mana-mana terdapat manusia yang dengan langkah-langkah panjang dan cepat, menyusuri trotoar-trotoar bekas koloni Inggris itu.

Atau datanglah ke hutan beton di Wanchai

Causewaybay, Tsuen Wan, dan Kowloon. Anda akan selalu berpapasan dengan manusia yang memenuhi hampir seluruh lebar trotoar. Mereka juga tampak di jalan-jalan kecil, lorong-lorong lirih Hongkong. Di sela-sela pemandangan yang mengesankan itu, perhatikanlah pagar trotoar yang dihiasi kembang-kembang hidup warna-warni. Perhatikanlah pula trotoar yang masih berhiaskan pohon-pohon pelindung. Di beberapa tempat, malah terdapat taman dan ruang terbuka hijau, berikut area bermain untuk anak.

Sepintas kita akan mendapat kesan bahwa

Taman dan pohon pelindung itu hanya “basa-basi” otoritas Hongkong agar salah satu kota tersibuk di dunia ini tidak terlihat angker dan kering. Kesan itu keliru, sebab kota berpenduduk 8,5 juta jiwa ini masih memiliki paru-paru kota yang memesona. Dari luas daratan 1.042 km persegi, separuh di antaranya diperuntukkan untuk areal hutan, terutama di perbukitan dan pulau-pulau kecil. Daerah dataran rendah di Kowloon dan Hongkong Island digunakan sepenuhnya untuk sentra hunian dan pusat bisnis. Ini berbeda dengan DKI Jakarta yang areal terbuka hijaunya sisa 9,4 persen. Kini DKI berjuang untuk meraih 13 persen areal terbuka hijau.

Lebatnya hutan di Hongkong di antaranya tampak

Kalau warga dunia melancong ke Disneyland, arena bermain di perbukitan yang selalu berkabut, atau menembus daratan besar China melalui perjalanan kereta api. Tampak benar bahwa hutan itu disentuh tangan terampil penuh cinta. Sebab, ia tampak segar sebagai taman dengan pohon-pohon yang sangat lebat. Diameter pohon-pohonnya di atas satu meter. Ada daun yang hijau pekat, hijau muda, coklat kemerahan, kuning telur, dan sebagainya.

Kalau kita renungkan, mungkin kita akan berkesimpulan bahwa kita terlampau asyik dengan jargon. Kita berteriak-teriak untuk menanam satu pohon oleh satu orang. Kita mencanangkan menanam sejuta pohon, bahkan kini semilyar pohon. Tetapi pada saat yang bersamaan, kita membabati hutan. Pada saat yang bersamaan kita menutup danau, mempersempit sungai, kita menjadikan situ sebagai sentra hunia. Alangkah eloknya kalau kita berhenti menebang hutan, berhenti sekedar berteriak tanam pohon. Kita hentikan aksi penutupan situ, danau, dan sungai. Kalau kita mampu melakukan hal ini, kita sudah berdamai dengan alam.

Baca Juga :