Alat-alat untuk pemikiran baru

Alat-alat untuk pemikiran baru

Periodisasi sejarah pemikiran dan sastra selama ini ditentukan oleh peristiwa-peristiwa  politis. Kita sekarang ini berbicara tentang periode Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmani. Bagaimanapun, ada lebih banyak kriteria yang mencerahkan yang dapat kita gunakan untuk membedakan periode-periode perubahan dalam sejarah pemkiran. Kita harus mempertimbangkan diskontinuitas-diskontinuitas yang mempengaruhi kerangka kerja konseptual yang digunakan dalam sebuah wilayah kultural yang telah ada (a given cultural space). Konsep-konsep mengenai nalar dan sains (‘ilm) yang digunakan dalam al-Qur’an misalnya, tidak sama dengan yang kemudian dikembangkan oleh kaum falasifa, menurut aliran Platonik dan Arestotelian. Bagaimanapun, konsep-konsep yang dielaborasi dalam wacana al-Qur’an sekarang masih digunakan secara akurat karena episteme yang diperkenalkan al-Qur’an tidak pernah dipertimbangkan secara  intelektual.

Episteme merupakan yang lebih baik bagi studi pemikiran karena ia concen dengan struktur dari wacana itu – postulat-postulat implisit yang mengendalikan konstruksi sintaksis dari wacana itu. Untuk mengontrol  validitas epistemologis dari berbagai wacana, adalah penting untuk menemukan dan menganalisis postulat-postulat  implisitnya. Upaya ini tidak pernah dilakukan untuk semua wacana dalam pemikiran Islam. Itulah mengapa Arkoun harus bersikeras menuntut digunakannya episteme baru yang secara implisit ada dalam jaringan konsep-konsep yang digunakan dalam sains-sains sosial dan kemanusiaan semenjak akhir abad ke-16.

Adalah tidak mungkin misalnya, menggunakan bahasa arab untuk mengekspresikan “masalah Tuhan”, yang menghubungkan Allah dan musykil (masalah yang sangat sulit); Allah tidak bisa dianggap sebagai problematik. Dia dikenal – baik, dipresentasikan dengan baik dalam al-Qur’an; manusia harusnya hanya merenungkan, menginternalisasi, dan mematuhi apa yang diwahyukan Allah Dirinya dalam firman-Nya.  Pembahasan klasik mengenai sifat-sifat Allah tidak bisa diterima oleh semua mazhab; dan akhirnya sifat-sifat itu dihimpun sebagai nama-nama Allah yang paling indah (asma Allah al-husna), tapi ditolak sebagai subjek penelitian ilmiah.

  1. Mode-Mode Pemikiran

Mohammed Arkoun mengklarifikasi dan melakukan diferensiasi antara dua mode pemikiran yang diadopsi oleh para pemikir muslim saat lahirnya modernitas intelektual dalam masyarakat mereka (bukan hanya dalam pemikiran), yaitu sejak permulaan Nahdha di abad ke-19. Arkoun tidak akan menekankan trend yang dikenal baik dari pemikiran reformis salafi yang dipelopori oleh Jamal al-Din al-Afghani dan Muhammad Abduh. Inilah yang Mohammed Arkoun sebut sebagai jalan pemikiran ishlahi yang telah menjadi karakteristik pemikiran Islam sejak wafatnya Nabi. Prinsip-prinsip umum bagi semua pemikir muslim, ‘ulama mujtahidin, sebagaimana bagi para sejarahwan yang mengadopsi kerangka kerja teologis yang diberikan oleh divisi waktu menjadi dua bagian – sebelum/ sesudah hijriah (seperti sebelum/ sesudah masehi) – adalah semua yang mentransendensikan Kebenaran Ilahi yang telah diberikan kepada umat manusia oleh wahyu dan secara konkret direalisasikan oleh Nabi melalui inisiatif-inisiatif historis di Madinah.

Untuk memikirkan kembali Islam, seseorang harus memahami asal-usul sosio-kultural pemikiran ishlahi dan pengruhnya terhadap nasib historis masyarakat-masyarakat tempat pemikiran ini telah atau masih dominan. Untuk menilai validitas epistemologis pemikiran  ishlahi, seseorang memulai dari masalah-masalah radikal dan awal yang berhubungan dengan proses generatif, struktur dan penggunaan ideologis pengetahuan. Dengan ini, dimaksudkan setiap jenis dan level pengetahuan yang dihasilkan oleh manusia yang hidup, bertindak, dan berpikir dalam situasi sosial-historis yang yelah ada. Pemikiran radikal merujuk pada kondisi biologis, historis, linguistik dan semiotik yang diberikan oleh masyarakat sebagai wujud-wujud alami. Dari perspektif ini, Wahyu Islam hanyalah sebuah upaya, di samping upaya-upaya yang lain, untuk emansipasi umat manusia dari batasan-batasan alami kondisi biologis, historis, dan linguistik mereka.

  1. Dari yang tak Terpikirkan ke yang Terpikirkan

Islam dipresentasikan dan dihidupkan sebagai sebuah sistem kepercayaan dan non-kepercayaan yang tidak bisa ditundukkan pada penelitian kritis apapun. Dengan demikian, membagi wilayah menjadi dua bagian: yang tak terpikirkan dan bukan terpikirkan. Kedua konsep ini bersifat historis dan tidak filosofis. Wilayah perspektif dari masing-masing bagian berubah melalui sejarah dan berbeda dari satu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya. Sebelum upaya sistematisasi yang dilakukan oleh Syafi’i mengenai konsep penggunaan sunnah dan ushuli, banyak aspek pemikiran Islam yang masih merupakan wilayah yang terpikirkan. Wilayah itu menjadi tak terpikirkan setelah kemenangan teori Syafi’i dan juga elaborasi dari “kumpulan-kumpulan” otentik. Sama halnya, masalah-masalah yang berhubungan dengan proses historis pengumpulan al-Qur’an dalam sebuah mushaf resmi menjadi semakin tak terpikirkan dibawah tekanan resmi kekhalifahan karena al-Qur’an telah digunakan sejak permulaan negara Islam untuk melegitimasi kekusaan politik dan menyatukan umat. Keputusan resmi terakhir yang menutup setiap pembahasan mengenai bacaan-bacaan mushaf ortodoks yang diterima telahdibuat oleh qadhi Ibn Mujahid setelah adanya percobaan Ibn Shumbudh (abad ke-4 H/ 10 M).

 

Sumber :

https://icanhasmotivation.com/jasa-penulisan-artikel/