Table of Contents

Andai Lebih Panjang Lagi

Hari itu tersedia seseorang yang meninggal dunia. Seperti biasanya, jikalau tersedia kawan dekat meninggal dunia, Rasulullah tentu meluangkan diri mengantarkan jenazahnya hingga ke kuburan.

Tidak cukup hingga di situ, pada waktu pulangnya, Rasulullah meluangkan diri mampir untuk menghibur dan menenangkan keluarga yang ditinggalkan sehingga tetap bersabar dan tawakal terima musbah itu. Begitupun pada keluarga kawan dekat yang satu ini.

Sesampai di rumah duka, Rasulullah bertanya kepada istri almarhum, “Tidakkah almarhum suamimu mengucapkan wasiat ataulah suatu hal sebelum ia wafat?”

Sang istri yang masih diliputi kesedihan cuma tertunduk. Isak tangis masih sesekali terdengar berasal dari dirinya. “Aku mendengar ia menyatakan suatu hal di antara dengkur nafasnya yang tersengal. Ketika itu ia sedang menjelang ajal, ya Rasulullah.”

Rasulullah tertanya, “Apa yang dikatakannya?”

“Aku tidak tahu, ya Rasulullah. Maksudku, saya tidak tahu apakah ucapannya itu sekadar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dahsyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dimengerti lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” bertanya Rasulullah lagi.

Istri yang setia itu menjawab, “Suamiku menyatakan ‘Andaikata lebih panjang lagi…, Andaikata yang masih baru …, Andaikata seluruhnya …’. Hanya itulah yang tertangkap sehingga saya dan keluargaku bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu cuma igauan di dalam situasi tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai”

Rasulullah tersenyum. Senyum Rasulullah itu sebabkan istri almarhum kawan dekat jadi keheranan. Kemudian, terdengar Rasulullah berbicara, “Sungguh, apa yang diucapkan suamimu itu tidak keliru.” Beliau diam sejenak. “Jika kalian semua mau tahu, biarlah saya ceritakan kepada kalian sehingga tak lagi heran dan bingung.”

Sekarang, bukan cuma istri almarhum saja yang hadapi Rasulullah. Semua keluarga almarhum mengerubungi Rasul akhir zaman itu. Ingin mendengar apa gerangan memang yang terjadi.

“Kisahnya begini,” Rasulullah memulai.
“Pada suatu hari, ia sedang bergegas akan ke masjid untuk jalankan shalat Jumat. Di sedang jalan ia bersua bersama dengan bersama dengan orang buta yang memiliki tujuan sama—hendak pergi ke masjid pula. Si buta itu sendirian tersaruk-saruk karena tidak tersedia yang menuntunnya. Maka, bersama dengan sabar dan telatennya, suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas yang penghabisan, ia lihat pahala amal shalihnya itu. Lalu ia pun berkata, ‘Andaikata lebih panjang lagi.’ Maksudnya adalah jika jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, tentu pahalanya akan jauh lebih besar pula.”

Semua bagian keluarga itu sekarang mengangguk-angguk kepalanya. Mulai tahu lebih dari satu duduk perkara. “Terus, ucapan yang lainnya, ya Rasulullah?” bertanya sang istri yang makin lama penasaran saja.

Nabi menjawab, “Adapun ucapannya yang ke-2 dikatakannya tatkala ia lihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi sekali untuk shalat Subuh, cuaca dingin sekali. Di pinggir jalan ia lihat seorang laki laki tua yang sedang duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suaminya membawa sebuah mantel baru, tak hanya yang dipakainya. Maka ia pun mencopot mantelnya yang lama yang sedang dikenakannya dan diberikan kepada si laki laki tua itu. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu lihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, ‘Coba, jika yang masih baru yang kuberikan kepadanya, dan bukannya mantelku yang lama yang kuberikan kepadanya, tentu pahalaku jauh lebih besar lagi.’ Itulah yang dikatakan suami selengkapnya.”

“Kemudian, ucapan yang ketiga, apa maksudnya ya Rasulullah?” bertanya sang istri lagi.

Dengan penuh kesabaran, Rasulullah menjelaskan, “Ingkatkah engkau disaat pada suatu waktu suamimu mampir di dalam situasi terlampau lapar dan meminta disajikan makanan? Ketika itu engkau segera menghidangkan sepotong roti yang udah dicampur daging dan mentega. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu sesudah itu membagi rotinya jadi dua potong. Yang sebelah diberikannya kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia lihat betapa besarnya pahala berasal dari amalnya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata, ‘Kalau saya tahu begini hasilnya, musafir itu tidak akan kuberi cuma separuh. Sebab, jika seluruhnya kuberikan kepadanya, udah tentu pahalaku akan berlipat ganda pula.’”

Sekarang, semua bagian keluarga mengerti. Mereka tak lagi kuatir bersama dengan apa yang udah terjadi kepada suami dan papa mereka disaat akan menjelang wafatnya. Kelapangan udah ia dapatkan karena ia tidak sungkan untuk mendukung dan memberi.

Baca Juga :