Buka-tutup situs KPU bukan satu-satunya solusi hindari peretasan

Buka-tutup situs KPU bukan satu-satunya solusi hindari peretasan

Praktisi keamanan siber menilai sistem buka-tutup laman Komisi Pemilihan Umum

yang menampilkan hasil hitung nyata, real count, bukan satu-satunya solusi untuk menghindari peretasan.

“Buka-tutup tepat, di saat genting dan situasi saat itu, dengan sistem yang mereka (KPU) miliki mungkin tepat. Tapi secara teori atau best practices, pastinya kurang tepat karena hal tersebut seharusnya bisa diantisipasi sejak jauh hari,” kata Kepala PT Digital Forensik Indonesia, Ruby Alamsyah saat dihubungi ANTARA News, Minggu.

Ruby menduga serangan yang dialami KPU terhadap situs mereka berupa distributed-

denial of service (Ddos) attack, penyerang berusaha melumpuhkan target secara besar-besaran, dari segala arah, sehingga terkesan banyak yang mengakses laman tersebut.

Mirip dengan kejadian server down karena terlalu banyak yang mengakses, server akan menolak karena muatan terlalu banyak, overload, sehingga laman tidak bisa diakses.

Sebagai analogi, Ruby mengilustrasikannya kasus ini seperti sistem buka-tutup

di jalur mudik saat terlalu banyak kendaraan yang lewat di jalan tertentu. Tidak seperti jalur mudik yang buka-tutup menjadi satu-satunya solusi untuk mengatasi kepadatan kendaraan, banyak solusi untuk mengatasi Ddos attack menurut Ruby.

“Salah satunya, mengatasi Ddos attack pakai cloudfare, otomatis menghindari serangan Ddos. Ada solusi sejenis lainnya yang secara teoritis sudah banyak diterapkan,” kata dia.

 

sumber :

http://rahmad.blog.unismuhpalu.ac.id/seva-mobil-bekas/