Ecobrick, Inovasi MyBebe’B Milenial Peduli Lingkungan

Ecobrick, Inovasi MyBebe’B Milenial Peduli Lingkungan
Ecobrick, Inovasi MyBebe’B Milenial Peduli Lingkungan

Berawal dari keprihatinan atas bencana alam yang kerap terjadi, Didin Hasanudin Afif berinisiatif

mendirikan komunitas Masyarakat Bebersih Bandung. Komunitas bernama MyBebe’B Milenial Peduli Lingkungan ini, melibatkan berbagai kalangan dan usia, khususnya generasi milenial.

Setelah berdiri selama 3 tahun, tepatnya pada 5 November 2016, sudah banyak kegiatan dan kontribusi yang diberikan komunitas ini, termasuk mengurangi penggunaan plastik dan mengolah limbah menjadi benda yang bermanfaat.

”Bencana alam yang kerap terjadi, salah satunya akibat budaya membuang sampah

sembarangan sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem dan menimbulkan berbagai bencana. Seperti, pencemaran air, banjir, timbulnya berbagai penyakit, dan dampak lainnya,” ujar Didin saat diwawancarai, Senin (9/12), dikutip dalam laman resmi Disdik Jabar.

Guna mencegah hal-hal buruk yang bakal mengganggu keseimbangan ekosistem, MyBebe’B Milenial Peduli Lingkungan mengajak pelajar dan mahasiswa untuk aktif memanfaatkan berbagai sampah plastik yang tersebar.

”Komunitas ini memang terbilang baru, namun kami sudah mempunyai inovasi bernama Ecobrick yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan baku pembuatan furnitur,” ungkapnya.

Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat memakai limbah non-biological

untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali. Ecobrick juga menjadi salah satu solusi dalam menanggulangi sampah lokal.

”Sampah-sampah ini diolah langsung oleh para anggota, mulai dari menyiapkan sampah plastik hingga botol plastik. Setelah sampah terkumpul, isi botol dengan plastik sampai padat dan tidak berubah bentuk saat ditekan, kemudian tutup kembali botol,” tuturnya.

Ecobrick ini, menurutnya, dapat dimanfaatkan sebagai material bangunan karena mempunyai sifat plastik yang awet, kuat, dan tahan air. Komunitas MyBebe’B Milenial yang melibatkan generasi milenial ini sudah berjumlah 101 orang, terdiri dari kalangan siswa sekolah menengah atas (SMA)/sederajat di Bandung Timur, Kabupaten Bandung, dan sebagian wilayah Sumedang. Selain itu, ada juga mahasiswa (saat itu masih berstatus pelajar SMA di wilayah Cicalengka, red) di beberapa kampus. Seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Unpad, UPI Bandung, Undip Semarang, UIN SGD Bandung, STAI Al Jawami Bandung, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Unikom Bandung, Poltek Piksi Ganesha Bandung, bahkan hingga universitas di Cina dan Taiwan.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/