Kondisi Geografi Taman Nasionas Sebangau

Kondisi Geografi Taman Nasionas Sebangau
Taman Nasional Sebangau memiliki kondisi topografi kawasan hutan rawa gambut umumnya, maka keadaan topografi kawasan TN Sebangau sebagian besar tergolong datar dengan kelerengan <2% dengan ketinggian antara 0-35 meter dpl. Iklim kawasan TN Sebangau menurut sistem Koppen, sebagian besar termasuk ke dalam iklim tropika basah (A), yaitu tipe iklim tropis dengan musim basah yang terkering tipe Aw. Tipe ini menunjukkan daerah yang memiliki curah hujan tahunan <2.500 mm, curah hujan pada bulan terkering <60 mm serta suhu udara rata-rata bulanan terdingin >18˚C. Taman Nasional Sebangau juga memiliki geologi berdasarkan peta geologi Indonesia  memiliki skala 1:1.000.000 (Gunawan, A., 2013).

Supriatna et al. (1994) menjelaskan tatanan stratigrafi kawasan TN Sebangau tersusun atas dua formasi utama yaitu endapan permukaan (Q) dan batuan sedimen tanah muka (Tq). G. Tanah Jenis tanah pada kawasan TN Sebangau terdiri dari 2 (dua) jenis tanah yaitu :
  • Fluvaquents Merupakan tanah yang belum berkembang, mempunyai bahan sulfidikdi dalam kedalaman 50 cm serta selalu jenuh air di semua horizon tanah pada beberapa waktu sepanjang tahun.
  • Tropaquents Merupakan tanah yang belum berkembang, mempunyai bahan sulfidikdi dalam kedalaman 50 cm serta selalu jenuh air di semua horizon tanah pada beberapa waktu sepanjang tahun. Secara spesifik tanah dicirikan oleh rata-rata perbedaan suhu tanah sebesar kurang dari 5˚C. H.
Hidrologi TN Sebangau dikelilingi oleh 2 sungai besar yaitu Sungai Sebangau dan Sungai Katingan serta anak-anak sungai utama didalam kawasan TN Sebangau. Komponen hidrologi seperti debit sungai dan fluktasi muka air tanah baik pada kawasan dengan penutupan vegetasi yang masih baik maupun pada kawasan gambut yang terdegradasi.

B. Kondisi Ekosistem Taman Nasionas Sebangau

TN Sebangau merupakan kawasan dengan ekosistem rawa gambut. Ekosistem gambut Sebangau merupakan salah satu ekosistem yang kondisinya relatif masih baik dibandingkan dengan daerah disekitarnya dan mempunyai peranan penting sebagai gudang penyimpan karbon dan pengatur tata air di Kabupaten Katingan, Pulang Pisau dan Kota Palangkaraya. Oleh karena itu kestabilan ekosistem ini merupakan salah satu factor penentu kualitas hidup manusia,baik ditingkat lokal, regional, nasional maupun global. Didalamnya terdapat keanekaragaman flora fauna khas. Namun demikian hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang rentan (fragile), dalam artian hutan ini sangat mudah rusak dan sangat sulit dikembalikan lagi ke kondisi awalnya.

Ekosistem Hutan Rawa Gambut TN Sebangau menurut Pusat Penelitian Biologi LIPI (2006) mengandung keanekaragaman jenis flora yang unik/khas seperti ramin (Gonystylus bancanus), jelutung (Dyera costulata), belangeran (Shorea belangeran), bintangur (Calophyllum sclerophyllum), agathis (Aghatis sp), dan menjalin (Xanthophyllum sp). Umumnya jenis-jenis tumbuhan tersebut menempati tipe ekosistem hutan primer dan sekunder. Komunitas hutan primer adalah hutan primer bekas tebangan, sehingga hutannya telah mengalami kerusakan namun sebagian hutannya masih relatif baik, dimana tegakan-tegakan jenis tumbuhan primernya masih terlihat  rapat. Sedangkan  komunitas hutan sekunder merupakan komunitas yang telah terdegradasi dengan kuat akibat aktivitas manusia.

Karakter unik yang ada diTN Sebangau antara lain hamparan hutan rawa gambut disepanjang pinggiran sungai yang memiliki air sungai berwarna hitam, berdasarkan hasil penelitian S.E. Page et al. (1999) diketahui bahwa Kawasan Taman Nasional Sebangau meliputi 7 (tujuh) sub tipe hutan, yaitu: hutan riparian yang ditandai dengan tumbuhan rasau yang berada di pinggir Sungai Sebangau, hutan rawa campuran, hutan transisi, hutan tegakan rendah, hutan tegakan tinggi, hutan intrusi granit dan hutan kanopi rendah (Gunawan, A., 2013).