Nadiem Ditantang Pangkas Beban Guru

Nadiem Ditantang Pangkas Beban Guru
Nadiem Ditantang Pangkas Beban Guru

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim,

ditantang untuk memangkas beban administrasi guru agar mewujudkan proses belajar mengajar yang inovatif, seperti tertulis dalam pidatonya pada peringatan Hari Guru Nasional.
Berita Terkait
Pidato Hari Guru Nadiem Makarim Bocor di Medsos
Jokowi Bicarakan Posisi Wamen dengan Nadiem
Viral, Mendikbud Nadiem Diingatkan Guru SD

Sebab, seorang guru mengatakan, mustahil untuk berinovasi sementara mereka dituntut menyelesaikan pekerjaan administrasi yang menguras tenaga dan pikiran.

Fahriza Tanjung, seorang guru di Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK) Negeri 1 Percut Sei Tuan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, bercerita, ada dua tugas besar yang dibebankan kepada mereka: membuat model atau kerangka belajar yang merujuk pada kurikulum, dan merampungkan kelengkapan administrasi yang terkait dengan tunjangan profesi.

Dua beban itu, katanya, sangat menguras tenaga dan pikiran mereka. Sebab, dalam merancang model atau kerangka belajar, guru harus cermat.

Jika terlalu rumit, tujuan kurikulum tidak akan tercapai dan siswa akan kerepotan saat menghadapi Ujian Nasional.

Belum lagi kalau ada perubahan dalam kurikulum. Hal itu, katanya, bakal menambah beban guru.

“Karena, hampir dua sampai tiga tahun sekali, ada perubahan kurikulum.

Itu sangat membebani. Kalau tidak terpenuhi [kurikulum], tunjangan profesi tidak bisa dicairkan,” ujar Fahriza Tanjung kepada wartawan, Minggu (24/11/2019).

Tak hanya merancang model pembelajaran, guru juga mesti menyusun instrumen penilaian setiap siswa dan lembar kerja peserta didik. Itu semua, kata Fahrizal, bukan hal mudah.

“Kenyataannya banyak guru yang tidak mahir, akhirnya banyak yang copy-paste dari guru lain,” tukasnya, “Penilaian untuk siswa itu sendiri ada tiga aspek: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian itu pun tidak hanya ketika evaluasi atau sesudah, tapi selama berlangsung.”

Sementara untuk beban kelengkapan administrasi yang terkait dengan tunjangan profesi dilakukan dengan mengisi sederet formulir yang diserahkan kepada Badan Kepegawaian Daerah.

Kemudian, jika menyangkut kenaikan pangkat, guru diwajibkan membuat makalah atau karya tulis.

“Kenaikan pangkat itu juga repot, karena kenyataannya banyak guru belum banyak paham akhirnya banyak calo untuk mengurus,” katanya.

Berjibunnya kewajiban dan tuntutan kepada guru tak memungkinkan mereka berinovasi di kelas dan kerap berjalan satu arah.

Itulah mengapa, menurut Fahrizal, sulit untuk memenuhi harapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, sesuai pidatonya.

“Kalau berharap student centre sulit dilakukan, kalau ada tuntutan-tuntutan begitu,” tambahnya.

Kalaupun dilakukan, harus ada kebijakan konkret yang menyeluruh, mulai dari pusat hingga daerah.

Menteri Nadiem, katanya, tak bisa hanya mengandalkan perubahan pada guru yang terikat pada jalur birokrasi.

“Harus ada pemahaman bersama antara guru dengan dinas pendidikan. Kalau tidak, ya nanti sama aja di lapangan dituntut untuk lebih mengutamakan pembuatan administrasi,” tukasnya.

 

Sumber :

https://my.sterling.edu/ICS/Academics/LL/LL379__UG08/FA_2008_UNDG-LL379__UG08_-A/Blog_105.jnz?portlet=Blog_105&screen=View+Post&screenType=next&&Id=dc470024-0aec-432c-bf79-108752dbf4b8