NUNGGAK BPJS DAN LEBIH MEMILIH BEROBAT KE ORANG PINTAR

Banyak orang yang menjadi hidupnya selamanya tenang kala nunggak BPJS. Mereka lebih percaya bersama dengan pengobatan orang pintar gara-gara hasilnya (terlihat) instan.

Sepulang kantor, saya berkendara di bawah rintik gerimis. Jalanan jadi licin. Karena udah agak malam, saya memacu motor lebih cepat ketimbang biasanya. Sampai di sebuah pertigaan, berasal dari arah kiri, arah masuk didalam gang, keluar motor tanpa melihat kanan dan kiri.

Motor di depan saya mengerem mendadak. Panik, saya juga melaksanakan perihal yang sama. Celaka, ban belakang motor saya udah gundul. Hasilnya, ban motor selip dan oleng ke arah kiri. Saya jatuh dan terseret motor sejauh lebih dari satu meter. Relfek, saya mengangkat kepala dan memosisikan bahu kiri untuk membentur aspal kali pertama.

Hasilnya, tiga tulang rusuk anggota belakang saya patah. Untungnya, patahan itu tidak berlangsung di satu tulang rusuk. Jika sampai terjadi, saya harus naik meja operasi. Karena patahannya berlangsung di tiga tempat, pengobatan memadai bersama dengan minum obat dan bed rest selama dua bulan. Saya risau jatuh berasal dari motor? Nggak begitu, sih. Saya lebih risau bersama dengan biaya rumah sakit.

Untung saja, kala itu saya belum nunggak BPJS. Semua biaya rumah sakit selesai oleh BPJS. Saya keluar berasal dari rumah sakit bersama dengan banyak variasi macam obat dan tagihan terapi. Setelah memeriksa nota pembayaran, saya hanya harus membayar 300 ribu rupiah saja. Seingat saya itu biaya konsultasi bersama dengan dokter spesialis tulang dan penyakit dalam.

Saya tidak dapat berkhayal terkecuali kala itu nunggak BPJS. Atau lebih parah, saya belum mendaftar asuransi pelat merah itu. Sekarang, pengalaman itu membuat saya berpikir kenapa tetap banyak yang nunggak BPJS padahal biayanya terjangkau. Istilah terjangkau sebetulnya berbeda-beda tiap orang. Namun, bagi seorang pekerja atau kelas menengah, biaya BPJS tetap terjangkau.

Namun, yang tetap berlangsung adalah nunggak BPJS. Bahkan, udah nunggak BPJS, lebih dari satu orang yang saya kenal lebih senang pergi ke orang pintar untuk berobat. Saya tidak didalam posisi menyalahkan atau membenarkan. Toh itu preferensi pribadi. Cuma, terkecuali punya, sebaiknya jangan nunggak BPJS gara-gara ini bukan asuransi semata tetapi bisnis membantu sesama yang sakit dan memerlukan biaya berobat.

Tentu saya bertanya kepada rekan yang dulu nunggak BPJS dan senang sowan ke orang pintar. Alasanmu apa?

Prima Sulistya, Pemred Mojok itu dulu mengungkapkan empat alasan orang menentukan nunggak BPJS dan tidak berobat ke medis demi pergi ke orang pintar. Empat alasan itu, pertama, kami lebih percaya hal-hal supranatural sejak kecil. Kedua, pengobatan orang pintar lebih tidak mahal ketimbang pengobatan medis.

Ketiga, kesembuhan keluar bersama dengan cepat, walaupun tidak seluruh merasakannya. Keempat. Promosi berasal dari mulut ke mulut yang masif. Izinkan saya tingkatkan satu poin hasil berasal dari ngobrol bersama dengan rekan yang nunggak BPJS: malas gara-gara mengurus BPJS itu ribet betul.

Saya rasa ini pola pikir yang lazim lahir. Pasien yang hendak gunakan BPJS harus udah mengantre sejak subuh demi memperoleh nomor antre kecil. Tidak banyak yang dapat bangun pagi untuk menganter. Padahal, kata “antre” itu udah buat malas, disempurnakan antrean BPJS. Saya pun mengalami kala hendak terapi. Bapak saya berangkat pukul 04.00 pagi dan itu saja tetap memperoleh nomor antrian lebih berasal dari 10.

Bagi banyak orang, mengantre itu pekerjaan yang menyebalkan. Itu baru mengantre ambil nomor urut, belum mengantre untuk dipanggil ke meja resepsionis, lantas antre dipanggil dokter. Berangkat ke rumah sakit pukul 06.30 pagi, saya pulang menjelang sore. Saya sih enjoy saja, lha wong gratis. Tapi, banyak orang tidak dapat sesantai saya.

Teman saya menentukan nunggak BPJS ketimbang menghabiskan kala untuk mengantre. Apalagi dia udah dulu dibuat kesal kala mengurus faskes 1 dan 2. Jadi, banyak orang itu sebetulnya bersyukur biaya rumah sakit “disubsidi” pemerintah. Namun, mereka jadi malas gara-gara sistem memanfaatkannya yang terlalu ribet.

Dia makin lama percaya bersama dengan status nunggak BPJS kala patah tulangnya dapat pulih kala dibawa ke orang pintar yang pakar patah tulang di Jawa Tengah. Meski sampai saat ini tetap merasakan ngilu, tetapi dia udah percaya dapat langsung sembuh. Saya dulu mengingatkan terkecuali patah tulang harus tuntas pengobatannya. Namun, dia bergeming dan saya tidak kemungkinan memaksa.

Dari masalah ini, jadi masuk akal kala tersedia orang yang udah putus asa berobat ke dokter lantas menentukan sowan ke Bu Ningsih Tinampi. Bahkan kala dia harus antre selama satu tahun dan mengeluarkan biaya besar. Sudah kadung kecewa, antre BPJS juga lama (padahal lebih dari satu jam saja), dan bukti hasil orang pintar yang instan buat orang nggak masalah nunggak BPJS.

Sampai di titik ini, perbaikan pelayanan BPJS sebetulnya harus dilakukan. Defisit BPJS, mungkin, dapat dikurangi bersama dengan lebih banyak orang bayar pas waktu. Nunggak BPJS nggak selamanya dapat diatasi bersama dengan denda dan hukuman. Apalagi terkecuali udah ngomongin boleh nggak berhenti BPJS saja. Lha itu kan sebetulnya hak kami kan untuk mempunyai asuransi merk apa.

Baca Juga :