Table of Contents

PENGAKUAN BEBAN

PENGAKUAN BEBAN
PENGAKUAN BEBAN
Pengeluaran untuk aset tak berwujud diakui sebagai beban pada saat terjadinya, kecuali :
a) Pengeluaran itu merupakan bagian dari biaya perolehan aset tak berwujud yang memenuhi kriteria pengakuan.
b) Sesuatu yang diperoleh melalui kombinasi bisnis dan tidak dapat diakui sebagai aset tak berwujud. Jika demikian halnya, maka pengeluaran tersebut merupakan bagian dari goodwill pada tanggal akuisisi.
Beban Masa Lalu Tidak Boleh Diakui sebagai Aset
Pengeluaran atas pos aset tak berwujud yang awalnya diakui oleh entitas sebagai beban tidak diakui sebagai bagian dari biaya perolehan aset tak berwujud di kemudian hari.
PENGUKURAN SETELAH PENGAKUAN
Entitas memilih model biaya atau model revaluasi sebagai kebijakan akuntansinya. Jika aset tidak berwujud dicatat dengan menggunakan model revaluasi, maka semua aset lain dalam kelompok tersebut diperlakukan dengan menggunakan model yang sama, kecuali tidak ada pasar aktif untuk aset tersebut.
1) Model Biaya
Setelah pengakuan awal, aset tak berwujud dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasian dikurangi akumulasi amortisasi selanjutnya dan akumulasi rugi penurunan nilai aset selanjutnya. Untuk tujuan revaluasian, nilai wajar ditentukan dengan menggunakan referensi dari nilai pasar aktif. Revaluasi dilakukan secara rutin sehingga pada akhir tiap periode pelaporan jumlah tercatat aset tak berwujud tersebut tidak memiliki perbedaan yang material dengan nilai wajarnya.
Model revaluasian tidak memperbolehkan :
a) Revaluasian aset tak berwujud yang sebelumnya belum pernah diakui sebagai aset.
b) Pengakuan awal aset tak berwujud pada jumlah tertentu selain biaya perolehannya.
Jika aset tak berwujud direvaluasi, maka akumulasi biaya amortisasi pada tanggal revaluasi:
  • Disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan jumlah tercatat bruto aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi menjadi sama dengan nilai revaluasiannya, atau
  • Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto aset dan jumlah neto setelah eliminasi disajikan sesuai dengan nilai revaluasian aset tersebut.

 

Jika suatu aset tak berwujud dalam sekelompok aset tak berwujud yang direvaluasi tidak dapat direvaluasi karena tidak terdapat pasar aktif untuk aset berwujud tersebut, maka aset tak berwujud dicatat pada harga perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan amortisasi rugi penurunan nilai.
Jika nilai wajar aset tak berwujud yang direvaluasi tidak lagi dapat ditentukan dengan referensi pasar aktif, maka jumlah tercatat aset tak berwujud tersebut adalah nilai revaluasian pada tanggal terakhir kali revaluasi dilakukan dengan referensi nilai pasar aktif dikurangi akumulasi amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai.
Jika jumlah tercatat aset tak berwujud mengalami peningkatan akibat revaluasi, maka peningkatan tersebut diakui sebagai pendapatan komprehensif lain dan diakumulasikan di ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun peningkatan tersebut diakui dalam laporan laba rugi untuk membalik penurunan revaluasi aset yang diakui sebelumnya dalam laporan laba rugi.
Jika jumlah tercatat aset tak berwujud mengalami penurunan akibat revaluasi, maka penurunan tersebut diakui dalam laporan laba rugi . Namun, penurunan tersebut diakui pada pendapatan komprehensif lain jika terdapat saldo kredit dalam surplus revaluasi atas aset tersebut. Pengakuan penurunan di pendapatan komprehensif lain mengurangi jumlah yang terakumulasi di ekuitas pada bagian surplus revaluasi.
UMUR MANFAAT 
Entitas menilai apakah umur manfaat aset tak berwujud terbatas atau tidak terbatas dan jika terbatas, jangka waktu atau jumlah produksi atau jumlah unit serupa yang dihasilkan selama umur manfaat. Aset tak berwujud dianggap oleh entitas memiliki umur manfaat tidak terbatas jika, berdasarkan analisis dari seluruh faktor relevan tidak ada batas yang terlihat pada saat ini atas periode mana aset diharapkan menghasilkan arus kas neto untuk entitas. Aset tak berwujud dengan umur terbatas diamortisasi dan aset tak berwujud dengan umur ekonomis yang tidak terbatas tidak diamortisasi.
Umur manfaat aset tak berwujud yang timbul dari hak kontraktual atau hak legal lain tidak lebih lama dari masa hak kontraktual atau hak legal lain tersebut, tapi dapat lebih singkat tergantung periode kapan aset dapat digunakan entitas. Jika hak kontraktual atau hak legal lain memiliki batasan yang dapat diperbaharui , maka umur manfaat dari aset tak berwujud termasuk periode pembaharuan hanya jika terdapat bukti yang mendukung pembaruan umur manfaat tidak menimbulkan biaya yang signifikan. Umur manfaat hak yang diperoleh kembali sebagai aset tak berwujud dalam kombinasi bisnis adalah sisa periode kontraktual hak tersebut diberikan dan tidak termasuk periode pembaruan.
1) Aset Tak Berwujud Dengan Umur Manfaat Terbatas
Periode Amortisasi dan Metode Amortisasi
Jumlah tersusutkan aset tak berwujud dengan umur manfaat terbatas dialokasikan secara sistematis selama umur manfaatnya. Amortisasi dimulai ketika aset tersedia untuk digunakan, yakni ketika aset berada pada lokasi dan dalam kondisi untuk beroperasi sesuai dengan cara yang dimaksudkan oleh manajemen. Amortisasi dihentikan pada waktu mana yang lebih dulu antara ketika aset tersebut digolongkan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan tanggal ketika aset dihentikan pengakuannya. Metode amortisasi yang digunakan menggambarkan pola konsumsi entitas atas manfaat ekonomi di masa depan yang diharapkan (mencakup metode garis lurus, metode saldo menurun, dan metode unit produksi) . Jika pola tersebut tidak dapat ditentukan secara andal, maka digunakan metode garis lurus. Amortisasi yang dibebankan untuk setiap periode diakui dalam laporan laba rugi  kecuali diizinkan oleh PSAK atau mensyaratkan amortisasi tersebut dimasukkan dalam jumlah tercatat aset lain.
Nilai Residu
Nilai residu aset tak berwujud dengan umur manfaat terbatas diasumsikan sama dengan nol, kecuali:
a) Ada komitmen dari pihak ketiga untuk membeli aset tak berwujud tersebut pada akhir umur manfaatnya, atau
b) Ada pasar aktif untuk aset tak berwujud tersebut dan:
  • Nilai residu aset tak berwujud dapat ditentukan dengan mengacu pada harga berlaku di pasar tersebut, dan
  • Terdapat kemungkinan besar bahwa pasar akan tetap tersedia sampai akhir umur manfaat aset tersebut.

 

Nilai residu aset tak berwujud dapat meningkat ke suatu jumlah yang setara atau lebih besar dari jumlah tercatatnya. Jika hal tersebut terjadi, maka amortisasi yang dibebankan adaah nol kecuali dan hingga nilai residu selanjutnya berkurang menjadi lebih rendah dari jumlah tercatat aset tak berwujud tersebut.
Penelaahan Periode Amortisasi dan Metode Amortisasi
Periode amortisasi dan metode amortisasi aset tak berwujud dengan umur manfaat terbatas ditelaah setidaknya setiap akhir tahun buku. Jika perkiraan umur manfaat aset berbeda secara signifikan dalam perkiraan pola konsumsi manfaat ekonomi aset, maka metode amortisasi diubah untuk mencerminkan pola yang berubah tersebut. Perlakuannya sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai PSAK 25 (revisi 2009) : Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.
2) Aset Tak Berwujud Dengan Umur Manfaat Tidak Terbatas
Aset tak berwujud dengan umur manfaat tidak terbatas tidak diamortisasi. Sesuai PSAK 48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset, entitas disyaratkan untuk menguji aset tak berwujud dengan umur manfaat tidak terbatas untuk penurunan nilai dengan membandingkan jumlah terpulihkan dengan jumlah tercatatnya setiap tahun dan kapanpun terdapat indikasi bahwa aset tak berwujud mengalami penurunan nilai.
Penelaahan Penilaian Umur Manfaat
Umur manfaat aset tak berwujud yang tidak diamortisasi ditelaah setiap periode untuk menentukan apakah peristiwa dan kondisi dapat terus mendukung penilaian bahwa umur manfaat tetap tidak terbatas. Jika tidak, maka perubahan umur manfaat yang muncul tidak terbatas menjadi terbatas diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai PSAK 25 (revisi 2009): Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan.