Sumber Daya Manusia Indonesia Belum Siap Hadapi Industri 4.0

Upaya menjadikan sumber daya insan (SDM) sebagai andalan mengejar sekian banyak ketertinggalan, tergolong menghadapi Revolusi Industri 4.0, menghadapi kendala berat. Kondisi ini terjadi sebab SDM yang dipunyai Indonesia masih rendah.

Indikator tingkat kualitas SDM tampak dari data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019 yang menyinggung proporsi warga yang umurnya 15 tahun ke atas yang punya ijazah tinggi melulu 8,8%, SMA melulu 26,4%, SMP 21,2%, SD paling tidak sedikit yakni 43,7%.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro mengingatkan, kualitas pendidikan insan penting guna modal Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Bambang menandaskan, Indonesia mempunyai modal yang banyak, khususnya dalam modal alam. Namun, sumber daya alam tidak dapat digunakan guna bertumpu menghadapi Revolusi Industri 4.0 ini. Karena itu, dia meminta pemerintah mementingkan pendidikan supaya kualitas masyarakat Indonesia dapat berkembang.

“Sehingga apa yang butuh dituntut, yang sangat utama ialah pendidikan,” ujar Bambang ketika menjadi keynote speaker dalam seminar nasional “Upaya Peningkatan Modal Manusia Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Guna Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” di Auditorium Gadjah Mada, Lemhanas RI, kemarin.

Tingkat edukasi masyarakat Indonesia setali tiga duit dengan angkatan kerja yang dimiliki. Dia membeberkan, angkatan kerja yang mempunyai pendidikan SMP ke bawah masih mendominasi. Berdasarkan keterangan dari dia, situasi tersebut dominan terhadap tingginya angka kemiskinan di Indonesia.

Dia juga kembali menekankan pentingnya upaya menggenjot tingkat edukasi masyarakat untuk menambah kualitas insan Indonesia. ‘’Dan konsentrasi utama anda hari ini ialah bagaimana kita membina Indonesia melewati pendidikan,” tandasnya.

Bambang kemudian menuturkan, dalam sejumlah tahun yang bakal datang, Indonesia pun mengalami bonus demografi. Sayangnya, SDM yang terdapat belum siap dijadikan modal. “Dalam memaknai bonus demografi, telah siapkah modal insan Indonesia? Ternyata di dunia ini, anda tidak yang sangat tinggi,” katanya.

Dia menyinggung peringkat SDM Indoensia berada pada posisi ke-87 dari 157 negara di dunia. Posisi ini kalah dikomparasikan Vietnam yang menduduki urutan 48 dunia dan nomor 2 di ASEAN. Apalagi dibanding Singapura, posisi Indonsia masih jauh di belakang.

“Sehingga anda harus benar-benar mesti menyiapkan modal SDM, jangan melulu modal vokasi, namun kita pun harus merencanakannya guna jangka panjang yaitu lewat pendidikan, melulu perencanaan jangka pendek,” katanya.

Selain menambah kualitas pendidikan, Indonesia mesti konsentrasi pada investasi 1.000 hari kesatu kehidupan untuk menangkal stunting dan tidak dapat diperbarui. Maka dengan investasi ini, kata Bambang, akan menyerahkan modal berupa kecerdasan untuk generasi yang bakal datang guna siap membawa Indonesia ke Revolusi Industri 4.0.

“Marilah anda juga konsentrasi untuk investasi 1.000 hari kesatu kehidupan. Selain bobot pendidikan, namun 1.000 hari kehidupan pun harus menjadi prioritas pemerintah kita. Sekarang intinya, saya hendak mendorong agar kita benar-benar terarah, dari hulu kita telah mulai rencanakan. Kita bereskan terlebih dahulu.”

Lemhanas menggarisbawahi evolusi dunia yang sekarang memasuki era Revolusi Industri 4.0, ditandai dengan pertumbuhan teknologi yang terintegrasi dengan jaringan internet atau intenet of things, big data, cloud computing, artificial inteligence sampai machine learning.

Dalam pandanganan lembaga tersebut, geliat evolusi teknologi semakin melaju kencang justru ingin susah diprediksi. Meskipun pada satu sisi, Revolusi Industri 4.0 dipercayai dapat menambah produktivitas dan efisiensi, di sisi lain pun berpotensi merangsang konflik antara peradaban teknologi dan eksistensi insani atau human existance.

Berdasarkan hasil penelitian edukasi Reguler Lemhanas angkatan LIX, diketahui penambahan modal insan nasional belum mengindikasikan penguatan yang optimal, sebenarnya SDM Indonesia punya potensi besar. “Jika peradaban teknologi tidak diimbangi dengan penguatan kapasitas modal sumber daya manusia, peradaban teknologi bakal mengganggu, bahkan mengancam eksistensi manusia selaku modal insan di dunia usaha,” ujar Gubernur Lemhanas RI Agus Widjojo.

Jorry S Koloaya, ketua Seminar Lemhanas, menegaskan bahwa hasil penelitian edukasi Reguler Lemhanas angkatan LIX mengejar kualitas SDM Indonesia masih rendah guna menghadapi Revolusi Industri 4.0. Karena itulah, dia pun menenkankan pentingnya penambahan penguatan dengan modal SDM.

“Kemajuan teknologi yang terdapat di Indonesia tidak seimbang dengan sumber daya insan Indonesia. Saat ini terdapat distrubsi, sampai-sampai perlu ada evolusi dalam sistem edukasi di Indonesia, penambahan akses dan pemanfaatan teknologi,” katanya.

Dia menandaskan, menurut situasi yang ada, SDM Indonesia masih belum lumayan untuk modal mengarah ke dan berlomba dengan negara-negara yang telah maju di era Revolusi Industri 4.0, lagipula jika ingin berlomba dengan negara-negara maju di dunia.

“Modal insan harus kuat. Apalagi andai ingin berlomba dengan negara-negara maju di era Revolusi Industri 4.0 ini laksana Jepang, China, Amerika Serikat yang berkembang dengan pesat sampai-sampai memperkuat peradaban kemampuan bangsanya.”

Jorry kemudian menuturkan bahwa terdapat dua komponen urgen yang mesti diperkuat untuk membawa Indonesia mengarah ke era Revolusi Industri 4.0, yakni edukasi dan karakter. Hal ini dapat dicapai dengan mengolah sistem edukasi dan membina infrastruktur pendidikan, tergolong infrastruktur teknologi pendidikan supaya dunia edukasi tidak merasakan “gegar teknologi” pada era Revolusi Industri 4.0.”

“Apalagi, secara modal manusia, tenaga kerja anda tetap SD ke bawah, justeru ada yang tidak sekolah. Kemampuan literasi dan vokasi berkurang. Jumlah warga tidak seimbang dengan pengajar. Di samping itu, karakter pun harus tetap diperkuat sebab akan menjadi pedoman sampai-sampai kompetensi insan Indonesia dapat meningkat dan powerful untuk membawa Indonesia siap menghadapi Revolusi Industri 4.0,” katanya.

Sementara tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan komitmennya guna terus memacu kualitas SDM melewati pendidikan. Plt Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Didik Suhardi menuliskan Kemendikbud me miliki program Wajib Belajar 12 Tahun supaya semua anak umur sekolah dapat menempuh pendidikan sampai sekolah menengah atas.

“Terkait dengan penyiapan SDM di Kemendikbud, di antara upaya yang dilaksanakan ada lah mengemban Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun. Dengan Wajar 12 Tahun paling tidak pendidikan anak-anak Indonesia dapat setingkat sekolah menengah,” katanya

Didik menerangkan, sistem zonasi yang diberlakukan pada pencatatan peserta di dik baru (PPDB) merupakan cara supaya semua anak dapat dipastikan sekolah sampai SMA. Didik menuturkan, kepandaian sistem zonasi diinginkan akan mempercepat kualitas layanan edukasi sehingga kua litas edukasi di Indonesia bakal merata. Baik di perkotaan maupun di wilayah terluar, terpencil sampai wilayah terdepan.

Sumber : https://www.nethost.cz/prekroceni-systemovych-zdroju?url=www.pelajaran.co.id