Wahyu dan Sejarah

Strategi dekonstruksi mengarah pada konfrontasi mutlak yang menentukan dalam masyarakat-masyarakat kitab. Ketika kita menemukan fungsi imaginaire sosial seperti menghasilkan sejarah kelompok, kita tidak bisa lagi mempertahankan teori tentang wahyu seperti yang telah dielaborasi sebelumnya, yaitu sebagai citra-citra yang dihasilkan fenomena kompleks dari intervensi profetik.

Al-Qur’an menekankan pentingnya manusia untuk mendengar, menyadari, merefleksikan, menembus, memahami, dan merenungkan. Semua kata kerja ini merujuk pada aktivitas-aktivitas intelektual yang mengarah pada suatu jenis rasionalisasi yang didasarkan pasa paradigma eksistensial yang diungkapkan bersama sejarah keselamatan. Sejarah merupakan inkarnasi aktual  dari wahyu sebagiamana ia diinterpretasikan oleh para ulama dan disimpan dalam kenangan kolektif. Wahyu memelihara kemungkinan memberi sebuah legitimasi “transenden” bagi tatanan sosial dan proses historis yang diterima oleh kelompok itu. Namun kemungkinan ini fapat dipertahankan hanya sealam sistem kognitif yang didasarkan pada imaginaire sosial, tidak digantikan oleh suatu rasionalitas baru, rasionalitas yang lebih masuk akal berkaitan dengan organisasi yang berbeda dari wilayah sosial historis. Inilah satu alasan bagi pertentangan yang sudah dikenal antara kaum falasifa dan mutkallimun, atau fuqaha.

Recent Posts